Cacing tanah (Lumbricus rubellus) berperan penting dalam mempercepat proses pelapukan bahan organik sisa. Contoh bahan organik antara lain protein, lemak, dan karbohidrat. Cacing tanah hidup di tempat yang bahan organiknya tinggi, misal di sawah, tegalan, pinggiran sungai, timbunan sampah, atau di tempat pembuangan sisa-sisa makanan dari dapur.

Dengan kemampuannya memakan bahan organik, cacing tanah mampu mengubah semua bentuk bahan organik menjadi tanah subur. Kemampuan inilah yang dimanfaatkan petani untuk memperbaiki kesuburan lahan pertanian. Di mana ada cacing tanah, di sana tanahnya subur (gembur dan berwarna gelap), tanaman pun tumbuh sehat. Mengapa bermusuhan dengan pupuk Urea?

Cacing sangat peka terhadap pupuk Urea. Pupuk Urea adalah pupuk yang terbuat dari bahan kimia sintetis. Ketika pupuk urea ditebar di tempat hidup cacing tanah, cacing tanah menggelepar-gelepar ke pinggir untuk menyelamatkan diri, tetapi belum sampai di pinggir ternyata sudah mati. Cacing tanah sangat sensitif terhadap bahan kimia. Sehingga cacing tanahlah yang paling awal lenyap dari dalam tanah. Pemberian pupuk Urea ini malah menyebabkan rusaknya kesuburan tanah dan akhirnya menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat.

Oleh karena itu, sekarang ini banyak para petani cenderung menggunakan pupuk yang terbuat dari bahan organik daripada bahan kimia sintetis.

Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Ni Luh Kartini, Dr., Ir., MSi, Cacing tanah mampu menghasilkan pupuk organik yang terbukti dapat memperbaiki kondisi tanah sehingga lahan menjadi subur dan menjadikan tanaman lebih produktif. Pupuk organik kascing –sebutan untuk pupuk alami dari cacing tanah ini– terbukti efektif sehingga dipercaya penggunaannya oleh para petani yang ada di Bali.